Sidang Parpurna HUT Kota Tegal ke 438 , Uyip Cerita Kisah Bocah Angon dan Banteng Loreng

0
633
Ketua DPRD Kota Tegal H. Edy Suripno, S.H., M.H,.(Foto:Pranoto/kBk)

KabarBeritaku.com, (Tegal ) – DPRD kota Tegal menggelar Sidang Paripurna Istimewa dalam rangka HUT ke 438,Rabu ( 11/04/2018), diruang sidang Paripurna DPRD setempat.

Rapat Paripurna HUT Kota Tgela yang ke 438 tersebut, dihadiri oleh, Forkompinda, dan juga para calon walikota Tegal. Ketua DPRD Kota Tegal,H. Edy Suripno, S.H., M.H, dalam sambutanya, mengangkat sebuah falsafah orang Tegal, “Banteng Loreng Binoncengan”. Pria yang akrab disapa mas Uyip ini, menceritakan, bagiamana seorang bocah angon dapat mengendalikan banteng dan melawan seekor Harimau.
” Mungkin kita sering mendengar Banteng Loreng Binoncengan . Banteng Loreng Binconcengan adalah salah satu falasah lokal warisan nenek moyang yang ada di Tegal yang menggambarkan watak orang Tegal yang gagah berani (divisualisasikan dalam bentuk hewan banteng) dan agak kasar (harimau loreng), akan tetapi pada hakikatnya Banteng Loreng Binoncengan dapat dituntun, ditunggangi, dan dikuasai oleh orang yang lemah lembut dan ramah-tamah serta tidak mempunyai maksud buruk.

Seseorang tersebut biasanya dilambangkan oleh seororang anak laki-laki, yang mengerti betul perwatakan banteng. Anak laki-laki tersebut adalah seorang penggembala atau bocah angon, yang menjaga bantengnya dengan penuh kasih sayang, sehingga ketika harimau akan menerkam bocah angon itu, banteng melindungi dan menyelamatkan bocah angon meskipun menderita luka parah pada sekujur tubuhnya.

Dari kisah Banteng Loreng Binoncengan, tentu akan banyak makna dan pelajaran yang terkandung didalamnya. Salah satunya adalah soal kepemimpinan. Dari segi kepemimpinan, jika banteng diibaratkan adalah rakyat Tegal, maka yang bisa menuntun, menunggangi, dan menguasai banteng adalah seseorang yang bermental bocah angon.

Terlepas siapa pemimpinnya , diharapkan pemimpin Tegal harus siap menjadi bocah angon. Dalam angon banteng, seorang bocah angon harus bisa bersikap sabar, pengertian, penuh kasih sayang, dan mengarahkan kemana seharusnya banteng mencari makan, agar banteng yang dulunya liar berubah menjadi jinak dan penurut karena perutnya kenyang.Karena kesuksesan seorang pemimpin adalah melihat Rakyatnya Sejahtera,” papar Uyip.

 

Uyip menilai masyarakat kota Tegal memiliki sifat toleransi sangat tinggi. Menurutnya itu modal awal yang baik untuk kemajuan kota Tegal. Ditambah infrastruktur, pembangunan, kebijakan-kebijakan kota Tegal sudah cukup baik. Sedangkan hal yang perlu dibenahi menurutnya yaitu pengalokasian anggaran yang kurang berpihak kepada masyarakat. ” Saya melihat pengalokasian anggaran lebih difokuskan kepada belanja PNS sementara belanja langsung yang ditujukan kepada masyarakat kurang diperhatikan. Misalnya saja pembangunan itu seringkali tidak sesuai dengan harapan warga, warga ingin dibangun sungai ternyata yang dibangun selokan.” Pungkasnya.(Pranoto/KBk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here