Hakim Cecar Kepala Seksi Pelayanan Kecamatan Margadana Soal Pungutan Liar

0
353

Kabarberitaku.com, ( Tegal )- Kepala Seksi Pelayanan Kecamatan Margadana, Umarudin hadir sebagai saksi di Pengadilan Negeri dalam perkara dugaan tindak pidana pemerasan dengan terdakwa FA.AF,SA. Dalam persidangan, lanjutan dengan agenda saksi, Rabu ( 02/05/2018). Umarudin dicecar pertanyaan oleh majelis hakim mengenai adanya pungutan liar yang disinyalir kuat terjadi di kantor Kecamatan Margadana.

Dengan sedikit terbata- bata dan berbelit, Umarudin menjelaskan, bahwa dalam pelayanan administrasi di kecamatan Margadana memang masyarakat dikenakan biaya. Namun biaya tersebut lanjut saksi, untuk pembayaran karcis Palang Merah Indonesia ( PMI ).” Memang ada, antara Rp. 2000,-  Rp.20.000,- untuk PMI, yang hanya pakai karcis PMI itu Rp. 2000,- dan yang bentuknya kaya tiket atau undangan Rp.20.000,- dan semua itu urusan ya pak Sekcam, saya hanya menjalankan saja, dan tidak benar jika ada pungli di kantor Margadana, dan saya memberikan uang Rp. 5.000.000, kepada para terdakwa, karena takut dilaporkan ke BKD, Inspektorat, Polres dan Gubernur, dan itu permintaan damai agar tidak menjadi masalah panjang, dan para terdakwa menawarkan iklan, akhirnya disetujui angka Rp.5.000.000,-,” kata Umar.

“Alasan saksi apa memberikan uang sebesar Rp. 5.000.000,-?, kepada para terdakwa, kenapa ? jika tidak salah kenapa harus takut, mau dilaporkan kemana saja kalau tidak merasa salah kok takut, dan tidak ada Pungli kenapa harus takut,” tanya ketua majelis hakim Elsa Lina BR. Purba kepada Umarudin.

Terhadap pertanyaan katua majelis hakim tersebut Umarudin tidak menjawab secara tegas. Bahkan sempat membuat majelis hakim berbicara dengan nada tingggi, karena saksi berbelit – belit.

Tak puas mendengar jawaban tersebut, hakim Elsa pun kembali menanyakan perihal pemberian uang dari saksi kepada para terdakwa . Elsa Lina menyinggung soal, pegawai negeri sekelas saksi bisa memberikan uang sebesar Rp. 5.000.000,- kepada terdakwa. ” Saksi tahu uang sebsar Rp. 5.000.000,- itu besar sekali loh, dan uang itu dari kantong pribadi saksi, saya saja gaji pokoknya diluar tunjangan tidak sampai segitu, saksi takut apakah saksi dalam kondisi sendirian atau bagimana?? kan masih jam kantor??

Terhadap pertanyaan tersebut Umarudin menjawab bahwa dia tidak sendirian karena masih jam kantor dan masih ada rekan kerja lainnya di kantor kecamatan Margadana.” Saya takut karena orang besar-besar dan logat bicara bernada tinggi,” jawab Umar

“ Ya jika tidak merasa salah ngak harus takut saksi ,” kata ketua Majelis Hakim Elsa Lina Purba.

Pantuan kabarberitaku.com, dalam sidang lanjutan dengan agenda saksi – saksi, Jaksa Penuntut Umum ( JPU ) Kejaksaan Negeri Kota Tegal, menghadirkan enam saksi. Diaatara Sekretariat Kecamatan, dua staf kecamatan, dua mahasiswa UPS, dan saksi pelapor Umarudin. Namun, keterangan para saksi- saksi, setelah keterangan saksi pelapor Umarudin, majelis hakim yang diketuai oleh Elsa Lina Purba, berlangsung cepat. Karena mayoritas saksi tidak mengetahui secara pasti dan jelas terhadap kejadian yang terjadi. Sehingga mejelis hakim menutup sidang dan melanjutkan sidang pada Rabu pekan depan dengan agenda keterangan saksi dari para terdakwa. (Soleh/Makmur/Kbk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here