Kisah Lusi Yang Putus Sekolah Karena Biaya dan Ibu Stroke

KabarBeritaku.com, ( Tegal )– Satu lagi kisah yang mencerminkan potret pendidikan di Kota Tegal, seorang anak perempuan bernama Lusi Irawan warga jalan Tanjung Rt. 02 Rw. 4 Kelurahan Kejambon Kecamatan Tegal Timur kota Tegal, harus rela putus sekolah ketingkat SMA karena keterbatasan biaya.

Ibunda Lusi, bernama Dyah Repelita (43) adalah seorang janda satu anak tidak mampu lagi dapat meneruskan sekolah anaknya Lusi Irawan (16) akibat kedua kakinya mengalami kelumpuhan atau strok. Dia yang dulu bekerja sebagai buruh di salah satu pabrik di Kota Tegal harus rela berhenti akibat strok yang menimpanya satu tahun terakhir. Diah juga mengaku, ijazah SMP putri simata wayangnya belum diambil karena tidak biaya.” Tidak biaya untuk menebus ijazah SMP ya, Lusi ditinggalkan ayahnya Beni Irawan ( Alm ) sejak masih SD dikarenakan ayahnya yang berprofesi sebagai sopir meningal karena kecelakaan, apalagi sekarang saya menderita stroke setahun ini,: kata Dyah yang mengaku pernah bekerja sebagai sebagai buruh pabrik.

 

Lusi saat ini sudah lulus SMP dan ingin melanjutkan ke SMA namun karena keterbatasan biaya, Lusi saat ini hanya menunggui ibundanya dirumah.”ujar Dyah kepada wartawan. Lusi sendiri mengaku ingin tetap melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA, tapi karena alasan kesehatan ibunya, lusi harus menjaga dan merawat ibunya.

 

Sementara Wakil Wali Kota Tegal, M Jumadi dalam tinjauannya menampaikan Lusi harus terus sekolah, “Lusi Harus Terus Sekolah” ucapnya

Terkait ijazah SMP Lusi yang masih ditahan oleh sekolahnya terdahulu, Camat Tegal Timur Zaenal Ali Mukti dan Lurah Kejambon, Agus Pramuardi dan Kepa Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal Budio Pradibto segera menyelesaikan persoalan tersebut.

Menurut Jumadi, Pemerintah Kota akan mendorong agar Lusi bisa sekolah lagi, selain itu Pemkot juga akan melakukan bantuan kesehatan kepada Ibu Dyah, melalui jaminan kesehatan.
Sementara itu untuk, perihal rehab rumah, Jumadi menyampaikan, sebetulnya Pemkot sudah mengajukan rumah tersebut untuk di lakukan rehab Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), namun terkendala persoalan dari persetujuan keluarga, sebab rumah yang sekarang ditempati Lusi dan Ibunya berstatus rumah waris keluarga, Jumadi berharap keluarga bisa tergugah untuk memberikan izin agar rumah tersebut bisa direhab.

Ia juga mengatakan, ini merupakan masukan bagi Pemkot bagaimana Pemkot seharusnya memiliki “one data” dimana Lurah Camat memberikan informasi yang akurat, warga yang benar-benar membutuhkan bantuan akan dapat terditeksi oleh OPD terkait hanya dengan memasukan satu kali pendataan dan bisa diakses oleh semua OPD terkait.(Makmur/KBk)