Pelaku Pariwisata Harus Berinovasi dan Kreatif

KabarBeritaku.com, ( Pati )– Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis ) sebagai penggerak , pengelola wisata harus berinovasi kreatif . Itulah yang ditekankan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah, Sinung Nugroho Rahmadi, saat memberikan sambutan dalam kegiatan Sarahean dan Penetapan Desa Tunggulsari Kecamatan Tayu Kabupaten Pati, Sabtu ( 23/11/2019) .

Sinung menyampaikan bahwa sinergitas adalah kunci dalam pembangunan pariwisata. Sebab, dengan sinergitas, para pelaku, pengelola pariwisata akan menghilangkan ego masing-masing dan bersama-sama mencapai visi tercapainya daerah menjadi tujuan wisata. ” Contoh kecil, media sosial, Anda juga harus bertanggung jawab mempromosikan desa wisata / pariwisata yang lain atau potensi pariwisata yang ada di Desa/Kelurahan. Itulah yang dimaksud bersinergi,” jelasnya.

Berkaitan dengan hal tersebut Sinung juga berpesan, agar instansi terkait memberikan pemdampingan , pembinaan dalam pengembaan wisata berbasis masyarakat. ” Saya minta jangan hanya SPJ saya, tapi dengan adanya kegiatan sarehan ini sebagai ajang bertemu dan bertukar gagasan sehingga dapat menginspirasi wilayah lainnya untuk melakukan hal serupa. Saling belajar. Mereka bisa mengamati, meniru, kemudian memodifikasi sebuah gagasan bagi wilayah mereka,” papar Sinung.

 

Sinung menyebut saat ini terdapat 229 desa wisata yang sudah aktif di Jawa Tengah. Namun, jumlah itu masih jauh dari target.

“Padahal target dalam 5 tahun pak ganjar lalu, targetnya bisa menumbuhkan 500 desa wisata. Makanya salah satu langkah kami adalah melalui gelaran Festival Desa Wisata ini. Agar menumbuhkan minat bagi desa lainnya, oleh karena itu baik pemerintah kabupaten/ kota hingga tingkat kelurahan harus mendukung penuh,” pungkas Sinung.

 

Sementara Bupati Pati Haryanto telah meresmikan Desa Wisata (Deswita) Tunggulsari Tayu dengan konsep objek wisata Mina Mangrove. Untuk mewujudkan impian pengelola deswita itu sesuai Detail Engineering Design (DED) membutuhkan anggaran mencapai Rp 50 miliar yang dilaksanakan bertahan selama enam tahun. Dengan anggaran terbatas, pihak pengelola berupaya merealisasikannya.

 

 

 

Kades Tunggulsari Jarot Supriyanto menunjukkan tambak ikan yang menjadi salah satu potensi desa Wisata. ( Foto: Makmur/Kbk)

menuturkan telah membuat DED Deswita Tunggulsari dengan desain wisata yang luar biasa. Sehingga membutuhkan anggaran besar karena pengembangannya nanti mulai dari pintu masuk objek wisata hingga penataan mangrove, gedung pertemuan, dan sarana prasarana lainnya.

(Makmur/KBk)