KabarBeritaku.com, ( TEGAL )- Mengunjungi Kota Tegal Azmi Abu Bakar pendiri dan pemilik museum Pustaka Peranakan Tionghoa di Tangerang Selatan, mendatangi tempat yang selama ini memiliki nilai bersejarah terutama bagi kalangan warga keturunan Tionghoa di Kota Tegal, Sabtu (5/2/2022).
Kedatangan Azmi Abu Bakar, disambut langsung sejumlah tokoh warga keturunan Tionghoa dan sejumlah pengurus Petanesia Kota Tegal di Kelenteng Tek Hay Kiong yang berusia ratusan tahun di Jalan Gurami, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat. Selanjutnya Azmi Abu Bakar berkeliling melihat dan diskusi tentang sejarah serta Budaya.
Dalam kesempatan tersebut Azmi Abu Bakar, mengatakan, kedatangannya ke kota Tegal, selain untuk menjadi pembicara dalam diskusi sejak kapan komunitas “Tiong Hoa berada di Tegal?”. Selain itu, lanjut Azmi, menelusuri jejak-jejak masyarakat Tionghoa di kota Tegal untuk merekam kontribusi mereka sejak masa silam.
Azmi menyebut, masyarakat Tionghoa layaknya penjahit keberagaman. “Di tengah tekanan terhadap masyarakat Tionghoa, mereka punya peran sebagai penjahit keberagaman,” tuturnya.
Aktivis pada Kerusuhan Mei 1998 ini mengingatkan, masyarakat Tionghoa bahkan turut pula mewarnai perjuangan Indonesia pada masa kolonialisme. Termasuk pendirian Kelenteng Tek Hay Kiong tak bisa dilepaskan dari pergolakan politik Kerajaan Mataram. Setelah ada perpanjian Giyanti pada 1755, Kerajaan Mataram dipecah menjadi dua yakni Surakarta Hadiningrat dan Yogyakrta Hadininingrat.Sepanjang wilayah Pantura termasuk Tegal jatuh ke VOC. ” VOC dengan politik devide et empira membagi komunitas-komunitas di Tegal. Jawa sendiri, Arab sendiri, Tionghoa sendiri. Bahkan dari penjelasan salahsatu pengurus Klenteng, dalam masa perjuangan melawan belanda warga Tionghoa bersama masyarakat Jawa melawan penjajahan ,” ujarnya.
Azmi mengungkapkan, adanya akulturasi sekaligus asimilasi budaya di Klenteng Tek Hay Kiong di Tegal, dibuktikan dengan adanya keberadan gamelan berusia ratusan tahun di Kelenteng Tek Hay Kiong.”Adanya Gamelan itu merupakan persembahan untuk menghormati tradisi Jawa. Selain gamelan, di Kelenteng Tek Hay Kiong juga ada sajen khas orang Jawa,” ujarnya.
Sementara pengurus Klenteng Tek Hya Kiong yang juga pemuka Agama Thao,Chen Li Wei Dao Chang mengatakan, gamelan berusia ratusan tahun merupakan gamelan pusaka bernama Kiai Naga Mulya. “Gamelannya dibuat tahun 1860 kalau tidak salah. Dibuat di Purworejo dan ditempatkan khusus , gamelan tersebut disimpan di ruangan khusus di dalam kelenteng yang dikunci. Sebagai gamelan pusaka, gamelan ini tidak bisa sembarangan dikeluarkan dan dimainkan.
” Jika mau dikeluarkan untuk dipentaskan harus ada ritual dulu. Setelah ritual dilakukan pembersihan. Setelah pembersihan dilakukan ritual lagi sebelum dipentaskan. Setelah dipentaskan, ada pembersihan lagi dan ritual sebelum ruangan tempat menyimpan ditutup. Ritual yang dilakukan tersebut sama dengan ritual yang biasa dilakukan di kalangan orang Jawa, lengkap menggunakan sesajen seperti nasi liwet, kemenyan, dan kembang telon,”jelasnya.
Menurutnya Terakhir kali, gamelan Kiai Naga Mulya dikeluarkan dan dimainkan untuk pagelaran pada 2017 lalu saat ulang tahun ke-180 kelenteng dihitung dari renovasi total pada 1837. Saat itu, gamelan memainkan lagu-lagu Jawa untuk mengiringi pentas wayang dalang Ki Anton Surono.(Makmur/KBk)








