KabarBeritaku.com, ( Kota Tegal ) – Semarak Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa meriah di lingkungan PT Asaputex Jaya atau Sarung Pohon Korma, Kota Tegal. Perusahaan yang berlokasi di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Kraton, Kecamatan Tegal Barat, tersebut menggelar berbagai perlombaan bagi karyawan, Senin (17/8/2026).
Beragam lomba unik seperti kipas ikan dan estafet sarung membuat suasana perayaan kemerdekaan semakin meriah. Sebanyak 214 karyawan dari wilayah Kota dan Kabupaten Tegal turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Pemilik Sarung Pohon Korma, Jamaludin Al Katiri, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan seluruh karyawan.
“Alhamdulillah tahun ini diikuti 214 karyawan, baik yang ada di Kabupaten maupun Kota Tegal. Semua menyatu di Jalan Gajah Mada ini,” ujarnya.
Menariknya, perusahaan menyiapkan 81 hadiah sebagai simbol HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Hadiah tersebut di antaranya lemari es, mesin cuci, beras, dan berbagai hadiah lainnya.
Selain itu, sebanyak 81 doorprize dengan nilai sekitar Rp81 ribu juga disiapkan bagi peserta dan tamu yang hadir. Jamal pun ikut menjajal lomba kipas-kipas. Namun, ia harus mengakui keunggulan karyawan dan awak media yang menjadi lawannya. “Saya tadi mencoba dua kali. Lomba kipas-kipas kalah, sama karyawan kalah, sama media kalah. Ternyata kipas itu susah,” katanya sambil bergurau.
Ia bahkan berseloroh menawarkan jasa instruktur bagi para pedagang sate yang ingin belajar teknik mengipasi bara api.
Kemerdekaan Dimaknai dengan Berbagi
Selain perlombaan, rangkaian peringatan HUT RI di lingkungan perusahaan juga diisi kegiatan kebersamaan dan rekreasi karyawan dari 12 pabrik yang berada di bawah naungan perusahaan.
Jamal mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk apresiasi perusahaan kepada karyawan. “Kita bulan Agustus berbagi ria dengan karyawan. Alhamdulillah saya lihat karyawan senang,” katanya.
Menurutnya, kemerdekaan tidak cukup hanya dirayakan melalui kegiatan seremonial. Generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk menghargai jasa para pahlawan dengan mengisi kemerdekaan melalui kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Kita dilahirkan sudah merdeka. Jadi tolong ke depan hargai pahlawan-pahlawan dulu yang merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Intinya untuk mengisi kemerdekaan ini, hidup lebih bermanfaat buat orang lain,” tegasnya.
Ekspor Sarung Tegal Masih Terkendala Logistik
Di tengah perayaan kemerdekaan, Jamal juga menyoroti kondisi industri sarung tenun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Tegal, khususnya pasar ekspor. Menurutnya, permintaan dari pasar internasional sebenarnya masih cukup tinggi. Namun, aktivitas ekspor menghadapi kendala berupa keterbatasan kontainer dan mahalnya biaya logistik. “Permintaannya sangat besar, kendalanya hanya di pengiriman untuk ekspor. Kontainer susah, biayanya mahal,” ungkapnya.
Ia menilai situasi konflik internasional turut memberikan dampak terhadap jalur perdagangan dan distribusi barang. Jamal berharap pemerintah dapat melakukan deregulasi sekaligus mencari solusi atas persoalan logistik agar produk kerajinan dari Pantura, termasuk sarung tenun Tegal, dapat kembali lebih mudah menembus pasar internasional.
Pasar Lokal Justru Mengalami Peningkatan
Sementara itu, untuk pasar domestik, Jamal menyebut permintaan sarung tenun Tegal justru mengalami peningkatan. Menurutnya, masyarakat Indonesia kini mulai mengenal keberadaan sarung Tegalan dan produk sarung ATBM. “Untuk lokal, alhamdulillah ada peningkatan. Orang dalam negeri yang dulunya enggak tahu ada sarung Tegalan, sarung ATBM, walaupun mahal sedikit, tetap laku,” ujarnya.
Tak hanya mengandalkan produksi yang sudah ada, Pohon Korma juga berupaya menjaga keberlangsungan industri tenun melalui program pelatihan gratis bagi masyarakat yang ingin menjadi pengrajin. Program tersebut dijalankan bekerja sama dengan sejumlah lembaga masyarakat di Kota dan Kabupaten Tegal.
Peserta mendapatkan fasilitas tempat pelatihan hingga uang makan dan transportasi selama mengikuti proses pembelajaran. “Alhamdulillah sudah berjalan di dua titik. Saya berharap September ini bisa empat titik, termasuk sampai ke Bojong,” jelas Jamal.
Program tersebut diharapkan dapat melahirkan pengrajin baru, khususnya masyarakat yang putus sekolah maupun mereka yang membutuhkan keterampilan untuk mendapatkan pekerjaan.
Media Dinilai Berperan Kenalkan Sarung Tegal
Jamal juga mengapresiasi peran media dalam memperkenalkan sarung tenun Tegal ke masyarakat yang lebih luas. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa sejumlah produk sarung yang beredar di berbagai daerah justru dibuat oleh pengrajin dari Tegal.
“Media menyuarakan dan menyebarkan bahwa di Tegal ini ada sarung handmade. Orang tahunya buatan Bali, orang tahunya sarung Lombok, orang tahunya dari Kendari. Ternyata sebetulnya sarung Bali ini buatan Tegal,” katanya.
Pemasaran melalui media dan platform digital, lanjutnya, turut membantu memperluas pasar sarung tenun Tegal. Bahkan, produk sarung Goyor disebut telah menjangkau konsumen di berbagai wilayah Indonesia. “Sudah hampir ke 36 provinsi yang ada di Indonesia sudah beli, entah satu, dua, atau sepuluh. Alhamdulillah,” ujarnya.
Jamal berharap masyarakat semakin mengenal dan bangga menggunakan sarung hasil karya pengrajin Tegal. Menurutnya, membeli produk lokal bukan hanya soal menggunakan pakaian tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan warisan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pengrajin. “Ini peninggalan dari orang tua-orang tua kita yang perlu dibanggakan. Alhamdulillah,” pungkasnya. ( Tosin Akbar /KBk )








