Jadi Pembicara di Muarareja Tegal , Adik Pelaku Bom Bali Cerita “Sembuh Jadi Teroris”

  • Whatsapp
Ali Fauzi bersama H. Thambari tokoh agama, saat menjadi pembicara di Pengajian Akbar di Jalan Brawijaya Kelurahan Muarareja kecamatan Tegal Barat kota Tegal.( Foto: Jaylani/KBk)

KabarBeritaku.com, ( Tegal )– Pernah terlibat dalam kasus terorisme bersama kedua kakaknya, Amrozi dan Ali Imron, kini Ali Fauzi malah memberikan pembinaan bagi para mantan teroris melalui Yayasan Lingkar Perdamaian. Ali Fauzi menceritkan kisah saat dirinya menjadi teroris. Menjadi instruktur pembuatan bom di Poso dan Kamp Hudaibiyah di Filipina.

Ali bergabung dengan organisasi Moro Islamic Liberation Front (MILF). Sebagai anggota elit pos bomber di MILF, Ali juga menjadi instruktur perakit Bom.“Saya dulunya sering mengajari orang cara merakit Bom. Dari Bom yang beratnya 1 Kilo hinga 1 Kontainer. Tapi pada saat melihat korban, saya baru menyadari apa yang saya perbuat itu salah,” kata Ali Fauzi saat menjadi pembicara Pengajian Umum yang digelar oleh keluarga H. Thambari di jalan Brawijaya no 46 Kelurahan Muarareja Kecamatan Tegal Barat kota Tegal, Senin ( 10/02/2020).

Read More

Kini Ali hijrah. Mengubah perilaku yang dulunya sering menebar teror, menjadi orang yang membantu Polri dalam memerangi radikalisme dan terorisme.Ali menceritakan awal mulanya “sembuh” dan keluar dari jaringan teroris, saat menginjakkan kaki ke Indonesia. Dia memang sempat ke beberapa negara untuk melakukan aksi teror, di antaranya Filipina. Dalam kondisi sakit, Ali ditolong polisi.“Saya waktu itu tiba di Indonesia, muntah-muntah darah, dan dada saya juga sakit, pikiran saya juga sedang kacau. Doktrin terhadap sosok polisi itu sendiri masih negatif, tapi ketika saya sedang muntah-muntah saya malah dibantu oleh polisi. Tidak ada satu tangan polisi pun yang memukul saya. Mereka memperlakukan saya dengan sangat manusiawi,” cerita Ali kepada masyarakat dan jamaah yang hadir.

Kala itu, Ali sempat diundang ke Dublin. Sampai di sana, ternyata sudah ada orang Indonesia. Di sana dia bertemu langsung dengan salah satu korban yang selamat dari tragedi pengeboman yang dilakukan muridnya.

“Dia mengalami luka bakar. Saya minta maaf kepada nya, saya peluk, saya menangis, dan Beliau memafkan saja. Saya juga bertemu dengan korban bom JW Marriot yaitu orang bule, yang kakinya harus diamputasi dan sekarang menggunakan kaki palsu. Dia seorang Katolik, dan ketika itu saya juga meminta maaf dan menangis, ini terjadi oleh muridnya sendiri. Sejak saat itulah saya betul-betul ingin menjadi sosok Ali Fauzi yang baru,” kata dia.

Kini, Ali telah mendirikan yayasan yang dinamai Lingkar Perdamaian. Melalui yayasan tersebut, dia melakukan pembinaan terhadap mantan teroris hingga anak-anak pelaku terorisme.(Jaylani/KBk)

Related posts