Isu serius dunia pendidikan mencuat dalam audiensi antara Aliansi Mahasiswa Tegal (AMT) dengan Pemerintah Kota Tegal yang difasilitasi DPRD, Rabu (6/5/2026). Mahasiswa menyoroti tingginya angka putus sekolah yang disebut mencapai 70 ribu pada tahun 2024, dan mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pendidikan daerah.
Audiensi yang digelar di ruang rapat Komisi I DPRD Kota Tegal itu dihadiri Ketua DPRD Kusnendro, Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono, Wakil Wali Kota Tazkiyyatul Muthmainnah, serta jajaran anggota dewan. Dari pihak mahasiswa, hadir perwakilan KAMMI dan GMNI.
Perwakilan GMNI, Muhammad Yusriannizar, menegaskan bahwa angka putus sekolah tersebut tidak bisa dianggap sebagai persoalan biasa. Ia menilai perlu langkah konkret dan terukur dari pemerintah untuk menekan angka tersebut. “Ini bukan angka kecil. Kami mendorong adanya evaluasi total terhadap program pendidikan, termasuk efektivitas program Asela Dijaketi,” ujarnya dalam forum.
Selain itu, mahasiswa juga mengkritisi kegiatan seremonial yang dinilai kurang memberikan dampak langsung bagi pelajar. Mereka meminta agar anggaran dan kebijakan lebih difokuskan pada program yang menyentuh kebutuhan nyata di lapangan.
Sementara itu, perwakilan KAMMI, Ismail Halim, turut menyoroti aspek lain seperti transparansi anggaran pendidikan yang disebut telah mencapai 21,7 persen dari total APBD. Mahasiswa meminta pengawasan ketat agar anggaran tersebut benar-benar tepat sasaran.
Menanggapi berbagai tuntutan, Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono menyatakan bahwa sektor pendidikan tetap menjadi prioritas pemerintah daerah. Ia menyebut berbagai upaya telah dilakukan, termasuk pelibatan relawan pendidikan untuk menekan angka putus sekolah. “Apa yang menjadi masukan akan kami jadikan bahan evaluasi. Pemerintah berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan secara bertahap,” kata Dedy.
Ketua DPRD Kusnendro menambahkan bahwa pihaknya akan terus mengawal aspirasi mahasiswa agar dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah. Audiensi berlangsung dinamis dan diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi semata, melainkan berujung pada langkah nyata untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Kota Tegal. ( Tosin Akbar/KBk )








