KabarBeritaku.com, ( Kabupaten Tegal )- Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Tegal membuat warga Desa Penyalahan, Kecamatan Jatinegara, kesulitan mendapatkan air bersih. Menanggapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal menyalurkan bantuan air bersih kepada warga.
Pemerintah Desa Penyalahan bersama perwakilan warga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Tegal dan BPBD yang telah merespons kebutuhan masyarakat.
Perwakilan warga sekaligus anggota FPKB DPRD Kabupaten Tegal, Maadah, mengatakan penyaluran air bersih dilakukan atas usulan masyarakat yang terdampak kekeringan. “Karena adanya usulan dari warga terkait kekeringan, BPBD menyalurkan air bersih ke Desa Penyalahan. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Tegal,” ujarnya.
Sejak awal Agustus hingga 21 Agustus 2026, BPBD Kabupaten Tegal tercatat telah menyalurkan sekitar tujuh tangki air bersih ke sejumlah titik di Desa Penyalahan. Pada Jumat, 21 Agustus 2026, penyaluran dilakukan di RT 26 Dukuh Rinten, yang mencakup sekitar 58 kepala keluarga, serta di RT 5 RW 02, dengan sekitar 36 kepala keluarga yang menerima bantuan. Sebanyak tiga petugas BPBD diterjunkan untuk melayani dan menyalurkan air bersih kepada warga.
Ketua RT 26 Dukuh Rinten, Amir (42), menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Desa Penyalahan, anggota DPRD Kabupaten Tegal Maadah, serta BPBD yang turun langsung membantu masyarakat. “Kami mengucapkan terima kasih karena pemerintah hadir langsung ke warga kami dan memberikan bantuan air bersih,” kata Amir.
Hal senada disampaikan Abdul Hakim, warga RT 5 RW 01 Dukuh Mendek. Ia mengaku bersyukur pemerintah turun langsung membantu warga yang mengalami kesulitan air. “Sekitar 36 kepala keluarga di sini terlayani. Kami bersyukur pemerintah hadir langsung ke lokasi warga,” ujarnya.
Semarak HUT Kemerdekaan ke-81
Di tengah kondisi kekeringan, masyarakat Desa Penyalahan juga tetap menggelar berbagai kegiatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Panitia HUT RI ke-81 Desa Penyalahan, Eko Wahyudi, mengatakan rangkaian kegiatan dimulai dengan lomba karaoke pada 15 Agustus, dilanjutkan malam tasyakuran di balai desa pada 16 Agustus.
Kemudian pada 17 Agustus, warga mengikuti upacara HUT Kemerdekaan di lapangan Dukuh Mingkrik.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan festival budaya dari Makam Mbah Patih Tiga Gunung, yang melibatkan perwakilan setiap RW. Kegiatan tersebut antara lain menampilkan kesenian ebeg, wayang, serta tradisi ruwat bumi.
Ketua RW 03, H. Wahidudin, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas perjuangan para pahlawan sekaligus upaya menjaga tradisi dan lingkungan.
Menurutnya, tradisi ruwat bumi merupakan bagian dari budaya masyarakat Jawa sebagai bentuk doa dan rasa syukur kepada Allah SWT, dengan harapan hasil pertanian terhindar dari hama dan perekonomian petani semakin meningkat.
Namun, kondisi pertanian warga saat ini menghadapi tantangan serius akibat serangan hama tikus. Wahidudin mencontohkan, hasil panen yang biasanya bisa mencapai sekitar 60 warung atau karung, tahun ini hanya sekitar 19 karung.
Kondisi tersebut menyebabkan petani mengalami kerugian cukup besar.
Dorong Gerakan Tanam Pohon
Eko Wahyudi juga menyoroti kondisi lingkungan di wilayah pegunungan Jatinegara yang dinilai membutuhkan perhatian bersama.
Menurutnya, kondisi ekstrem yang terjadi pada 2026, mulai dari tanah bergerak dan longsor jalan di Desa Padasari hingga kekeringan, menjadi pengingat pentingnya menjaga lingkungan.
Ia mendorong adanya gerakan partisipasi masyarakat untuk melakukan penanaman pohon tahunan di kawasan pegunungan Jatinegara.
“Perlu ada partisipasi warga, termasuk gerakan relawan untuk menanam pohon. Harapannya, pohon-pohon tersebut dapat membantu menyerap dan menyimpan air,” ujarnya.
Ia berharap gerakan penghijauan dapat dilakukan secara berkelanjutan sehingga kawasan pegunungan mampu menjadi daerah resapan air dan membantu mengurangi dampak kekeringan pada musim kemarau.
Dengan gotong royong antara pemerintah dan masyarakat, penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan melalui bantuan air bersih, tetapi juga melalui upaya jangka panjang menjaga lingkungan dan sumber air. ( Wanudi /Makmur /KBk )








